Kisah Kami
Headlines News :

Latest Post

Al Mashun, Meski Tua Sangat Berguna

Written By sahrul alim on Selasa, 05 Juni 2012 | 10.38


Oleh: Asykur Anam*

Ceritanya, pada zaman Belanda Makmun Al Rasyid Perkasa Alamsyah seorang Sultan Deli ke 9 membangun  Masjid Raya Al Mashun  yang dibangun tanggal 1 Rajab 1324H atau 21 Agustus 1906 dan selesai 10 Sept 1909.

Masjid Raya Al Mashun/Foto: Asykur Anam

Masjid ini berbentuk  segi  8 (oktagonal) dan memiliki 4 sayap disetiap bagian selatan timur utara dan barat yang berbentuk seperti bangunan utama namun berukuran lebih kecil. Luas keseluruhan bangunan adalah 5.000 meter.

Masjid yang memperoleh sentuhan Italia dan Jerman ini dulunya menjadi satu bagian dengan komplek istana Maimun. Masjid yang dirancang oleh Dingemans dari Amsterdam (dengan bentuk yang simetris jika dilihat dari keempat sisinya) juga  memiliki gaya yang diambil dari budaya Timur Tengah, India, cina, dan Spanyol. 

Ini terlihat ketika anda masuk ke bagian dalam Masjid yang juga didanai oleh seorang Cina yaitu Cong Api. . Tampak dibagian dalam ukiran terlihat warna Merah yang menurut ceritanya masjid ini juga ternyata memiliki sentuhan Cina.

Anda  juga dapat melihat ukiran-ukiran khas Timur Tengah dengan balutan warna emas pada ukiran didinding-dinding Masjid ini . Warna emas juga terlihat di  Kuba Mimbar Masjid yang digunakan  untuk berkhotbah yang terbuat dari tembaga.

Selain itu pintu-pintu  yang terbuat dari kayu ulin besi dengan warna hijau gelap yang ditempel menggunakan susuk mencerminkan betapa kokohnya masjid yang mampu menampung 2500 umat ini. Bahkan, didalam masjid anda dapat melihat kitab suci Al Quran yang ditulis tangan, konon Al Quran ini merupakan hadiah dari seorang Pakistan yang dihadiahkan kepada Raja.

Cerita ini didapat dari salah seorang pendakwah asli Medan yang bernama Muhammad Rafiq yang berasal dari salah satu daerah di Sumatera Utara yaitu Percut.
Dibalik megahnya Masjid yang hampir setiap hari dikunjungi oleh umat Islam di Medan untuk beribadah, ternyata memberikan penghidupan bagi banyak orang salah satunya adalah Ismail. Pria berprofesi sebagai Marketing di salah satu dealer motor atau “kereta” orang Medan menyebutnya.

Bertepatan dengan hari jumat, Ismail sudah ada di Masjid ini sejak pukul 10.00 siang. Sehari-hari Ismail bertugas menyebarkan brosur dari kantonya, dengan harapan suatu saat nanti ada orang yang meneleponnya dan membeli motor di dealer tempat ia bekerja. Jika ada yang membeli Ismail biasanya mendapatkan imbalan sekitar Rp 500 ribu hingga Rp 750 ribu rupiah satu motornya.

“Hari ini kan ramai nanti ada banyak yang sholat jumat, jadi saya kesini biar brosur yang saya bawa habis jadinya bisa pulang lebih cepat dari biasanya,” kata Ismail dengan tersenyum. “Selain Ibadah lancar, kerja kita juga lancar,” tambahnya dilanjutkan dengan tawa.(*)

Panorama Istana Ma’moen

Written By sahrul alim on Senin, 04 Juni 2012 | 11.17


Oleh M. Syahri Ramadhan (LPM Media Sriwijaya FH Unsri)


Bersama – sama dengan rekan pers mahasiswa dari berbagai daerah. Ada yang dari Aceh, Padang, Medan, Riau, Solo, Bali, Makassar, Pare - Pare, dan saya sendiri yang berasal dari kota Palembang semuanya membaur menjadi satu di dalam angkot yang kami tumpangi. Canda tawa dari teman – teman dengan aksen bahasa dari berbagai daerah membuat suasana begitu ceria selama perjalanan kami menyusuri kota Medan.


Akhirnya rombongan kami sampai pada tempat tujuan. Adapun rombongan saya yang akan menyusuri salah satu tempat bersejarah di kota medan ini adalah teman – teman dari makassar, solo, medan, dan lampung. Rasa penasaran pun berubah menjadi kekaguman yang amat luar biasa setelah melihat istana yang indah ini. Desain bangunan yang begitu megah nan klasik semakin memantapkan hati atas keindahan istana ini.




Dengan berjalan santai saya dan rekan – rekan memasuki kawasan tersebut. meskipun luas tetapi tetap saja mata saya memerhatikan betapa luar biasanya gedung ini. Tak terkecuali, teman – teman yang lain seperti tidak mau menghilangkan momen tersebut. mereka pun mengabadikan kunjungan mereka tersebut dengan mengambil foto di sekitar kawasan istana. Termasuk juga saya yang tidak mau menyia – nyiakan selama kunjungan saya selama disana. Dengan mengambil Handphone  di dalam kantong celana kemudian menyodorkan kepada teman lain untuk mengambil gambar saya yang berada di kawasan istana.

Dengan bergaya ciri khas layaknya bintang model ditambah dengan mengenakan kaca mata hitam menambah kepercayaan diri saya untuk difoto oleh teman saya. Kemudian saya dan rombongan pun memasuki gedung tersebut. Betapa luar biasanya keadaan ruangan tersebut, berbagai motif warna menghiasi dinding istana dan berbagai perlengkapan yang ada di dalamnya seakan membuat saya benar - benar berada di masa kerajaan. Segala yang ada di dalam ruagan tersebut, kami perhatikan satu per satu mulai dari kursi, foto para sultan, hingga singgasana kesultanan.


Sebagai untuk memuaskan rasa penasaran saya terhadap gedung ini. Saya dan rekan pers yang lain pun menemui dan bercakap dengan penjaga istana tersebut. Dengan penampilan peci hitam di atas kepalanya dan sikap yang begitu dingin seakan menandakan bahwa dia siap menjawab segala pertanyaan dari kami mengenai sejarah maupun segala hal yang terkait mengenai istana Ma’moen.


Pria yang biasa dipanggil Azmi ini pun menjelaskan terlebih dahulu tentang peran kesultanan di indonesia dalam usaha terlepas dari cengkeraman penjajah Belanda. Menututnya, kesultanan yang ada di indonesia termasuk di medan khususnya raja atau sultan mempunya andil besar dalam menuju kemerdakaan Indonesia. Bahkan tidak berlebihan rasanya jika para sultan ini disamakan dengan seorang presiden sekarang. Namun, seiring berjalannya waktu peran dan wewenang sultan ini tidak terlalu besar seperti dulu. Hal ini dikarenakan sistem presidensial di indonesia yang telah diterapkan sejak awal kemerdekaan. Meskipun begitu, Azmi kembali menjelaskan bahwa peran dari sultan dari kesultanan Deli ini tetap berperan besar bagi masyarakat adat di Medan.


Bukan sampai disitu saja, dia menceritakan bahwa Sultan sekarang merupakan generasi yang keempat belas. Namun, khusus berdirinya banguna tersebut sudah ada sejak sultan Deli generasi kesembilan.


Setelah puas dengan jawaban yang diberikan oleh bapat tersebut. saya pun kembali melanjutkan untuk menelisik lebih jauh keadaaan istana tersebut. Bahkan, hal wajib yang tidak boleh dilupakan oleh pengunjung yaitu berfoto tetap saya lakukan dengan begitu percaya diri. Kemudian setelah menyusuri semua keadaan di dalam ruangan tersebut. saya dan rombongan segera menuju masjid untuk melakukan sholat jum’at.



Itulah salah satu pengalaman singkat saya selama berada di kota berjuluk “melayu deli” ini. Banyak pengetahuan baru yang didapat setelah menyusuri kota ini. Selain itu, kunjungan saya di istana bersejarah nan indah tersebut semakin membuka mata dan rasa kagum saya atas segala peninggalan kebudayaan di indonesia. Memang benar, tidak dapat dipungkiri bahwa keyakinan saya atas keberagaman budaya daerah di indonesialah yang membuat negara ini layak menjadi pusat perhatian dunia. Itulah salah satu panorama yang hanya ada di indonesia, hanya di kota medan yaitu panorama Istana Ma’moen. (*)

Bekerja dengan Sepenuh hati


Dibalik hegemoni para pimpinan UNM, ada sosok yang sangat berperan didalamnya. Mereka adalah para “juru antar” yang rela mengabdi dengan tulus hati.

Angin sepoi-sepoi memainkan daun-daun yang jatuh di pekarangan depan rektorat UNM. Angin itu menambah kantuk bagi siapa saja yang berada di sekitarnya. Hal yang sama juga terjadi kepada para sopir para pejabat kampus Universitas Negeri Makassar (UNM). Mereka dengan  setia menunggu Sang Pejabat  turun dari gedung rektorat berlantai tiga itu. Tak jarang mereka menunggu dari pagi hingga sore malah kadang hingga malam. Biasa sampai malam jika pimpinan sedang lembur.

Bagi para sopir ini, menunggu bukan hal membosankan, Menunggu bagi  mereka menjadi hal biasa. Meraka menganggap sebagai resiko pekerjaan yang harus dijalani. Namun demikian, Iwan misalnya, salah seorang sopir yang mengabdi selama enam tahun ini, hingga kini belum menyandang status PNS meski menurut pengakuannya sudah masuk data base pegawai UNM. Pengabdian yang dilakukannya para sopir UNM ini demi menghidupi istri anak-anaknya. Mereka berharap, pimpinan universitas memberi peluang kepada mereka agar bisa menjadi pegawai tetap. Namun, demikian mereka tetap tekun bekerja walau dengan gaji pas-pasan.

Awal tahun 2012 nanti UNM akan mengadakan suksesi pemilihan Pimpinan universitas. Beberapa  diantara mereka merasa was-was. Pasalnya kedudukannya sebagai sopir pimpinan bisa saja terancam. Ini karena mereka belum terikat kontrak oleh kampus sebagai pegawai tetap. Bila pimpinan baru nanti tak lagi membutuhkan jasa mereka, mereka bisa terdepak dari kampus yang selama ini dijadikan tempat mengais rezki. Dan bila hal itu terjadi, mereka terpaksa angkat koper dan pulang kampung atau mencari peruntungan di tempat lain.“Terpaksa, kami pulang kampung kalau tidak dipanggil lagi di periode selanjutnya,” tutur Iwan pasrah.


Menginjak Tanah Abang

Wajah berseri dijumpai pada Bakri ketika ditemui Profesi. Bapak dari tiga orang anak ini sudah menjadi sopir UNM sejak tahun 2000. Menjadi sopir dirasakannya sangat menyenangkan dan pada akhirnya tahun 2005 ia terangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). 

Menurut Bakri semenjak menjadi sopir banyak pengalaman yang sangat mengesankan. Pengalaman demi pengalaman memberinya pelajaran berarti dalam hidup yakni pentingnya menjaga kepercayaan. “Saya ke Jakarta karena jadi sopir,” ungkapnya.

Saat itu, Bakri dipercaya menjadi Sopir Prof. Parawansa, mantan Rektor UNM dan mendampingi hingga empat tahun di ibukota negara ini terhitung tahun 2003 hingga 2007. Prof.Parawansa saat itu menjabat sebagai anggota DPR RI dan mengajak Bakri menjajaki Jakarta. “Mungkin karena beliau percaya sama kinerja saya hingga mengajak saya kesana,”ucapnya. 

Perbedaan jarak tempuh di Makassar dengan Jakarta membuatnya harus lebih sabar mengemudikan kendaraan. Pasalnya macet menjadi langganan bagi pengguna jalan. Setelah berakhirnya masa jabatan Prof.Parawansa sebagai anggota DPR RI, Bakri kembali menetap di kota Daeng dan menjadi sopir Pembantu Rektor III Prof Hamsu A Gani hingga saat ini.

Menyekolahkan Anak hingga Sarjana

Lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya, seperti itu juga kisah para sopir pejabat UNM. Haruna, yang saat ini berprofesi sebagai sopir Rektor UNM, Arismunandar. “Saya sudah jadi sopir sejak tahun 1989,” kata Haruna. Ia mengisahkan bahwa profesi sopir sudah digelutinya selama 22 tahun. Berbagai petualangan menjadi sopir sudah ia lumat habis.

Awal karirnya  ia menjadi sopir seorang bule yang bekerja pada perusahaan Pabrik Kertas Gowa. Haruna mengisahkan bagaimana disiplinnya orang bule, hingga ia dilarang merokok dalam waktu kerja. Sejak saat itu ia belajar menghargai profesinya dan menjunjung tinggi tentang kedisiplinan.
Karena ketekunannya dalam menjalankan profesinya ia dapat menyekolahkan tiga orang anaknya hingga mencapai gelar sarjana. “Alhamdulillah, dengan berprofesi sebagai sopir saya bisa menyekolahkan anak saya hingga sarjana,”tukasnya.

Jalin Keakraban dengan Majikan

Tak kenal maka tak sayang, mungkin karena pepatah ini hingga Wahyuddin sangat ingin menjalin keakraban dengan siapa saja  termasuk atasannya. Sopir pembantu Rektor II ini mengaku sangat respek dengan profesinya. Hal ini ia rasakan karena ia memiliki majikan yang sangat baik. Ia mengaku sering merasa canggung ketika diajak makan bersama oleh majikan.

Pria asal Bulukumba ini sangat menikmati pekerjaanya, walaupun pada awalnya rasa jenuh sering menghinggapinya.  Namun apa boleh buat tak ada pekerjaan yang lebih menjanjikan baginya selain menjadi sopir. “Lama-lama saya enjoy dengan pekerjaan sekarang,” ungkapnya. 
Sama halnya dengan Haruna, Wahyuddin pun sangat mengedepankan kedisiplinan dalam menjalani profesinya.

Belajar Disiplin 

Dia adalah Muh. Said sopir Pembantu Rektor bidang akademik, Sofyan Salam. Sejak kecil ia menjadi sopir angkot (pete-pete). Kerasnya kehidupan dijalanan ia rasakan sampai dewasa. Pungli bagi sopir angkot, jatah preman, hingga perkelahian dijalan pernah ia rasakan. Berbagai macam pengalaman menarik pernah ia rasakan. 

Semenjak tamat SPG (setingkat SMA) ia pun ingin merubah nasibnya dengan menjadi honorer di Sekolah Dasar di daerah Barombong. Menjadi Honorer di tahun 1980-an dirasakannya sanagt sulit, mulai dari nasibnya sebagai honorer pada saat itu kurang mendapat perhatian  serirus dari pemerintah. “Nampaknya jadi honorer pada saat itu gajinya sanagt sedikit, lebih banyak pengeluaran daripada pemasukan”, kata bapak dua orang anak ini. Hingga akhirnya Ia kembali menjadi sopir angkot yang menurutnya lebih menjajikan daripada jadi honorer. Sebuah peluang menjadi sopir pada sebuah instansi ia peroleh. Beruntung ia mendapatkan majikan seorang pejabat tinggi UNM. 

Di samping berprofesi sebagai sopir  bagi sang pejabat, ia juga menjadi kepercayaan sang majikan. Hal itu ia dapatkan karena bekerja dengan pengabdian yang baik. Ketika itu, Sofyan Salam, menjabat direktur Pascasarjana. Sampai akhirnya Sofyan Salam jadi Pembantu Rektor I UNM dia masih dipercaya . Dengan prinsip kedisiplinan dan keuletannya ia berhasil mendapatkan kembali kepercayaan PR I. “Banyak pelajaran berarti yang saya dapatkan sejak menjadi sopir pimpinan,” katanya. Selama ia menjadi sopir PR I, ia banyak belajar tentang kedisiplinan yang tidak perolehnya pada saat menjadi sopir angkot. “Alhamdulilah, kebetulan pimpinan saya orangnya sangat disiplin dan tekun. Di sana saya banyak belajar tentang kedisiplinan dan ketekunan yang saya tidak dapatkan sewaktu jadi sopir pete-pete dulu,” kenangnya. 

Bangga Jadi Sopir Pejabat

Ultra Nirwan nama lengkapnya, ia lebih akrab dipanggil Iwan. Waktu masih remaja ia adalah sopir angkutan umum dangan rute Palopo (sebuah kota di Kab.Luwu Sulsel ±390KM dari Makassar) -Makassar. Penghasilan yang tak menentu dan kerja paruh waktu adalah kegiatan sehari-harinya. Tahun 2006, semua berubah, ketika ia menjadi sopir Pembantu Rektor Bidang Kerjasama, Nurdin Noni. Kehidupannya berubah 180 derajat, Dia yang sebelumnya harus menunggu penumpangnya diterminal, sekarang ia hanya menunggu satu orang saja turun dari ruang kerjanya. Pada awalnya ia merasa bosan jika harus menunggu dari pagi hingga sore. “Awalnya bosan juga kalau harus menunggu dari pagi hingga sore bahkan kadang-kadang hingga malam, tapi seiring berjalannya waktu lama-kelamaan banyak teman, akhirnya rasa bosan itu pun tak terasa lagi,” ungkap laki-laki kelahiran Palopo ini.

Menurutnya, menjadi seorang sopir pimpinan lebih menjanjikan. “Walaupun sebenarnya gajinya pas-pasan tapi kerjanya jadi lebih mudah dan bisa bayak waktu untuk kel;uarga,” katanya. Selama menjadi sopir pimpinan dirinya sama sekali tak pernah merasa canggung, sebaliknya ia merasa bangga dengan profesinya sekarang. Bergaul dengan orang-orang UNM membuatnya merasa betah. “Begitu banyak informasi atau pengetahuan baru yang saya dapatkan sejak jadi sopir di UNM,” katanya. (RUL)
 
Support : Facebook | Sahrul Arul | Almamater
Copyright © 2011. Kisah Kami - All Rights Reserved
Template Created by Sahrul Arul Published by Almamater
Proudly powered by Blogger